JAKARTA — Dari balik jeruji Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abdul Wahid mengirimkan pesan keras kepada publik. Melalui surat tulisan tangan yang kini beredar luas di Riau, ia membantah secara tegas seluruh tuduhan yang diarahkan kepadanya dan menyebut dirinya sedang diposisikan sebagai aktor utama dalam perkara yang tidak pernah ia lakukan.
Surat itu dibuka dengan sumpah keagamaan dan permohonan maaf kepada masyarakat Riau atas kegaduhan publik. Namun, substansi surat justru berisi perlawanan frontal terhadap konstruksi kasus yang berkembang.
“Wallahi, Billahi, Tallahi. Saya tidak pernah meminta fee ataupun setoran kepada ASN, apalagi mengancam mutasi,” tulis Abdul Wahid.
Ia menolak mentah-mentah tudingan adanya perintah, janji pertemuan, maupun serah terima uang yang dikaitkan dengan namanya. Menurutnya, tidak ada satu pun tindakan aktif yang melibatkan dirinya secara langsung dalam dugaan praktik suap tersebut.
Abdul Wahid juga menegaskan ulang klaim keluarganya terkait uang yang disita KPK dari rumahnya di Jakarta Selatan. Ia menyatakan dana itu merupakan tabungan pribadi keluarga untuk kebutuhan kesehatan anak, bukan hasil kejahatan.
“Jika saya berbohong atas sumpah ini, maka Allah Maha Adil,” tulisnya, menutup pernyataan dengan kutipan ayat Al-Qur’an.
Yang paling krusial, Abdul Wahid secara implisit membantah narasi publik yang menyebut dirinya tertangkap tangan langsung dalam OTT KPK. Berdasarkan rangkaian kronologi yang beredar, Abdul Wahid tidak diamankan bersama barang bukti uang di lokasi operasi, melainkan ditangkap dalam tahapan pengembangan perkara.
Fakta ini memunculkan pertanyaan serius: siapa aktor sebenarnya, dan mengapa Abdul Wahid didorong menjadi wajah utama kasus?
Surat tulisan tangan itu kini dibaca sebagai sikap menantang opini publik sekaligus kritik diam-diam terhadap cara perkara ini dikonsumsi publik. Di tengah tekanan hukum, Abdul Wahid memilih bersumpah atas nama Tuhan sebuah langkah yang bagi sebagian masyarakat Riau dianggap sebagai taruhan moral tertinggi.
Namun proses hukum tetap berjalan. Pernyataan Abdul Wahid, sekeras apa pun, belum menjadi kebenaran hukum, melainkan bantahan yang kini menunggu pembuktian di meja penyidik dan pengadilan.
Satu hal yang pasti, surat dari balik jeruji ini telah mengubah arah perdebatan: bukan lagi sekadar siapa yang ditangkap, tetapi siapa yang sebenarnya bertanggung jawab. ***MDn
#Sumpah Abdul wahid #surat dari Abdul Wahid #OTT KPK riau